Budidaya Jahe Merah Sebagai Produk Unggulan Desa Karangjengkol Kesugihan Cilacap

Budidaya Jahe Merah Sebagai Produk Unggulan Desa Karangjengkol Kesugihan Cilacap

Mempunyai produk unggulan yang mampu memberi kontribusi yang nyata bagi penduduknya merupakan salah satu faktor penentu kesejahteraan bagi suatu wilayah dan desa. Tentunya, produk unggulan tersebut tidak serta merta ada dengan sendirinya. Walaupun setiap daerah memilki ciri dan kekhasan masing-masing, namun tanpa manajemen dan sumber daya manusia yang baik, kontribusinya tidak akan dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

Menyadari hal tersebut, HIMA BK UNUGHA Cilacap bekerjasama dengan Kemenristekdikti menggandeng Dinas Pertanian Cilacap dan Christian Soolany, S.TP, M.Si selaku Dosen UNUGHA menyelenggarakan workshop budidaya jahe merah sebagai produk unggulan Desa karangjengkol Kesugihan Cilacap pada tanggal  14 Agustus 2018 di Balai Desa Karangjengkol dengan upaya memaksimalkan kontribusi dari sumber agraria yang ada di desa untuk kesejahteraan masyarakat tutur Yusuf Hasan Baharudin selaku Dosen Pembimbing.

Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Karangjengkol Kesugihan Cilacap menjadi agenda Program Hibah Bina Desa melalui pembangunan pemberdayaan masyarakat dan pengurangan pengangguran di karangjengkol dan menjadi salah satu dasar kerja sama antara Kemenristekdikti dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNUGHA) Cilacap.

Peserta yang mengikuti workshop adalah para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Lestari sebagai mitra dalam program hibah bina desa HIMA BK. Ada juga dari KWT Mekarsari yang mengikuti workshop ini. Untuk kelanjutan program ini akan ada kelembagaan baru yaitu Usaha Bersama (UB) Berkah Lestari.

 

Melalui proses workshop ini, para peserta berhasil menghasilkan beragam produk dari olahan jahe merah. Sebagian berasal pengetahuan baru yang dibawa oleh para pendamping yang khusus memberikan materi tentang jahe, mulai dari produksi hingga pemasaran. Sebagian lagi diambil dari kebiasaan dan pengalaman tradisi lokal yang sudah berlangsung sejak lama. Beberapa produk yang dihasilkan diantaranya, sirup jahe merah, serbuk jahe, dan permen jahe.

Dahulu Berlimpah Namun Minim Kontribusi

Jahe menjadi salah satu komoditas pertanian yang banyak ditanam di desa ini dikarenakan dua tahun lalu harga jahe yang dijual kepada tengkulak harganya mencapai 20 ribu – 30 ribu per kg. Inilah yang menyebabkan banyak sekali petani di dua desa tersebut yang menanam jahe.

Hampir semua anggota KWT membudidaya jahe merah di halaman rumah yang saat itu dipasarkan dengan harga mahal. Akhir 2015, harga jahe pelan-pelan mengalami penurunan dan puncaknya pada tahun 2016 harga jahe anjlok ke angka 5.000 per kg. Hingga tahun 2018 sekarang kondisi yang akhirnya berimbas pada pendapatan petani di dua desa tersebut akibat harga produksi yang lebih tinggi dari harga jual.

Warga yang terdesak karna kondisi akhirnya haru rela jahenya dibayar Rp. 5000,- Kg. Sementara warga yang tidak mau mengalami kerugian lebih memilih menyimpan hasil panen di rumah sembari menunggu harga jahe kembali naik.

Persoalan yang memberatkan masyarakat di dua desa ini sekarang ialah soal keberlimpahan jahe akibat terkendala harga jual yang rendah. Masyarakat lebih memilih menyimpan hasil panen mereka daripada menjual dengan harga murah. Kondisi ini semakin lama tentu berpengaruh bagi stabilitas ekonomi masyarakat karna tidak memberi kontribusi nyata dan siginifikan.

 

Nah berlatar belakang kondisi begitu maka Tim PHBD HIMA BK bermitra dengan KWT Ngudi Lestari menggerakan masyarakat dengan mebnetuk kelambagaan Usaha Bersama (UB) Berkah Lestari dengan tujuan agar jahe tersebut kembali memberi manfaat dan kontribusi nyata bagi kesejahteraan warga.

Bentuk kerja sama tersebut berada dalam Program Hibah Bina Desa (PHBD) Tahun 2018. Harapannya Program ini kemudian berlanjut untuk tahun depan. Sementara itu, dalam pelaksanaan kegiatan ini meibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Lestari dan Mekarsari, Karangtaruna Karangjengkol dan KMPA Ighopala,” tuturnya. Aini selaku Ketua TIM PHBD menerangkan, tanaman jahe merah termasuk tanaman hortikultura yang dimanfaatkan oleh industri jamu maupun makanan di Indonesia.